Membina suatu keluarga yang harmonis merupakan tujuan dari semua pasangan
suami istri yang ada di dunia ini. Kehidupan yang saling mendukung antara ayah
, ibu dan anak baik di saat suka dan duka selalu didambakan oleh setiap
keluarga dan juga oleh mereka yang baru membina bahtera rumah tangga. Hal
inipun terucapkan dalam janji perkawinan dimana setiap keluarga haruslah saling
mendampingi dalam berbagai situasi sampai ajal memisahkan mereka.
Tetapi kadangkala kenyataan berbicara lain sehubungan dengan tujuan keluarga
ini. Seringkali anggota keluarga cenderung menghadapi dan berusaha
menyelesaikan permasalahannya sendiri-sendiri tanpa melibatkan anggota keluarga
yang lain sehingga fungsi komunikasi yang seharusnya dapat saling membantu
proses penyelesaian masalah tidak bekerja dengan baik. Tentunya bukan
penyelesaian yang diperoleh , tetapi keretakan hubungan rumah tangga yang harus
dihadapi.
Untuk menghadapi berbagai permasalahan hidup , Anda sekeluarga haruslah
selalu membuka diri untuk sebuah komunikasi walaupun permasalahan yang harus
diselesaikan sangatlah berat karena kunci dari semua pintu solusi adalah
komunikasi. Jadi selain Anda menkomunikasikan permasalahan Anda dengan
anggota keluarga lainnya , Anda dapat pula mengkomunikasikannya melalui website
ini hanya dengan meng-klik topik permasalahan dibawah ini dan
temukan solusinya pada link solusi :
1.
Pertengkaran
2.Perselingkuhan
3.
Perceraian
4.
Kesehatan
5.
Masalah
Keuangan dan Karir
6.
Anak dan
Masalahnya Bertetangga
7.
Masalah
dengan Keluarga Suami/Istri
Contoh Kasus : Novi dan Budi mengalami masalah dalam keluarga yang
berulang-ulang
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Saya bosan dengan permasalahan keluarga, karena sangat sering muncul
masalah yang berulang. Dulu pernah kami selesaikan, dan ternyata sekarang
muncul lagi”, kata Novi, seorang ibu rumah tangga.
Begitulah sifat persoalan keluarga. Ada sangat banyak permasalahan kecil dan
renik, dan sering terjadi secara berulang. Hal ini karena corak interaksi dalam
kehidupan keluarga yang unik dan spesifik, sangat berbeda dengan “orang
kantoran” yang bekerja dengan sebuah standar operasional tertentu, pada waktu
tertentu. Sementara di rumah, sangat banyak jenis urusan, dari yang sangat renik
hingga urusan yang sangat penting dan strategis, dengan waktu yang tak
terbatas.
Interaksi kita berulang, cerita kita berulang, tingkah laku kita berulang,
dan muncullah permasalahan yang juga berulang. Isteri yang memerlukan waktu
lebih banyak untuk persiapan sebelum bepergian, karena waktu mandi yang lebih
lama, bersolek, berdandan, mengenakan pakaian, semua memerlukan waktu yang
lebih lama dari suami. Sudah sangat sering suami mengingatkan agar isterinya
bersiap lebih awal sehingga tidak tergesa-gesa dan tidak terlambat berangkat.
Namun kejadian sering berulang. Budi sudah menunggu
di mobil, gelisah, mengirim sms, membaca koran, Novi –sang isteri yang cantik–
belum segera datang. Ia bunyikan klakson mobil berulang, agar Novi segera
datang. Beberapa saat kemudian, tampak sang isteri yang telah berdandan cantik
dan wangi, keluar dari rumah menuju mobil yang sudah siap berangkat di depan
rumah.
Wajah Budi sudah sangat cemberut dan tidak mengenakkan, karena memendam rasa
jengkel terlalu lama menunggu di dalam mobil. Saat Novi masuk ke mobil dan
duduk di sampingnya, dengan wajah geram Budi langsung menginjak pedal gas
kencang-kencang sehingga mobil melaju cepat. Rasanya tidak enak, karena mobil
berjalan terlalu cepat, dan Novi mengetahui ini karena Budi sedang badmood.
Ingin mengekspresikan kemarahannya.
“Sudah berulang aku katakan, kalau bersiap itu lebih awal. Jangan mepet
waktunya. Kamu mandi saja perlu dua jam. Selalu saja terlambat berangkat”,
gumam Budi.
“Kamu enak saja bicara. Kamu tidak peduli dengan urusan rumah. Mau pergi,
langsung pergi begtitu saja. Aku tidak bisa. Kamu lihat dari pagi aku tidak
istirahat. Setelah menyiapkan keperluan anak-anak untuk sekolah, aku langsung
bersih-bersih dapur. Aku tidak bisa pergi dalam kondisi dapur berantakan. Dapur
harus bersih dulu”, jawab Novi tidak kalah ketus.
“Kamu kan bisa menghitung waktu, berapa lama untuk membersihkan dapur dan
untuk bersiap pergi. Kamu ngerti hitungan jam nggak sih?” semakin tinggi nada
bicara Budi.
“Sebenarnya ada cara yang lebih cepat untuk bersiap. Yaitu kamu bersihkan
dapur yang kotor. Kalau kamu lakukan itu, pasti aku gak pernah terlambat. Dari
dulu aku sudah bilang seperti ini, tapi kamu gak pernah peduli”, Novi tak mau
kalah.
“Kamu selalu saja mempersoalkan urusan membersihkan dapur. Aku kan sudah
bilang, cari saja pembantu. Sampai sekarang kamu gak bisa nyari pembantu kan?”
jawab Budi.
“Makanya karena kita belum punya pembantu, kamu harus membantu aku
membereskan dapur, agar aku bisa segera bersiap pergi”. Novi masih saja terus
membantah.
Kenyatannya, pertengkaran seperti ini selalu terjadi. Novi merasa capek,
lelah, karena Budi tak mau mengerti. Budi merasa jengkel, karena Novi tidak
pernah berubah. Berulanglah pertengkaran dan pertengkaran itu.
Berdamailah dengan Permasalahan Berulang
Kenyataannya, masalah-masalah seperti itu selalu muncul. Suami merasa sudah
sangat sering mengingatkan isterinya agar tidak terlambat berangkat. Namun
kenyataannya, tetap sering terlambat. Isteri merasa sudah sering meminta suami
untuk membantu membersihkan dapur, namun kenyataannya tidak pernah dilakukan.
Akhirnya selalu saja terjadi pertengkaran, yang bermula dari sebab yang sama.
Setahun yang lalu mereka bertengkar tentang keterlambatan. Hari ini terulang
lagi, dan kelak akan terjadi lagi. Tuduhan yang sama, jawaban yang sama.
Pertengkaran yang sama, kekesalan yang sama, kejengkelan yang sama, dan tidak
terjadi kesimpulan apa-apa. Berulang lagi dan akan berulang lagi.
Karena itu sesuatu yang rutin terjadi, karena interaksi anda terjadi setiap
hari, maka berdamailah dengan kenyataan yang berulang tersebut. Jangan dibuat
pusing dan bingung atas berulangnya permasalahan, karena pasangan anda memang
orang yang sama, pertemuan dan komunikasi anda adalah dengan orang yang sama,
maka corak permasalahannya cenderung berulang.
Jangan menghabiskan waktu untuk membingungkan atau memperuncing hal-hal sama
yang terjadi di keluarga kita. Karena jika hal-hal kecil tersebut disikapi
dengan kejengkelan, akan merusak suasana. Budi dan Novi akhirnya pergi dengan
suasana hati yang rusak.
Mereka tidak bepergian dengan gembira, namun dengan
pertengkaran yang membuat suasana hati menjadi kecewa. Ini pasti berpengaruh
terhadap kualitas hubungan mereka dan berpengaruh pula terhadap kualitas kerja.
Berdamailah dengan kondisi-kondisi tidak ideal yang selalu anda temukan
dalam kehidupan keluarga. Pasangan anda hanyalah manusia biasa, yang memiliki
banyak kekurangan dan kelemahan. Pasangan anda bukanlah orang sempurna, ia
hanya manusia yang memiliki sejumlah keterbatasan. Oleh karena itu suasana
saling menjaga, saling membantu, saling memahami, saling mengerti, saling
mengingatkan, saling menguatkan, saling mengisi, saling memberi, harus terus
menerus terjadi.
Jika suasana “saling” itu anda rawat dengan baik, anda tidak akan terjebak
dalam kebingungan menghadapi persoalan yang berulang dalam keluarga.
Sumber :
http://wonderful-family.web.id/?p=1103
http://blog.re.or.id/masalah-keluarga-konsultasi-keluarga.htm
http://joedansolusimu.site90.com/masalah_keluarga.htm
http://pengobatan.com/info_nursyifa/masalah_keluarga.html
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120423185303AAOjBXj